Ritus Legong Menari Seperti Bidadari Dia
Menurut Biyang Ade, kelemahan ini terjadi karena sejak kecil bukan diajar menjadi penari, tapi cuma menjadi peniru gerakan tari.
Seharusnya menari itu di hati.
Hati yang akan menggerakkan tangan, kaki, maupun mata.
“Cuma tubuh harus dilatih sejak kecil.
Dibentuk lewat latihan keras.
Tidak seperti sekarang, ditekuk sedikit saja, anak-anak itu sudah menangis.
Orang tuanya datang marah-marah, ha… ha… ha.
…”
Biyang Ade bercerita bagaimana gurunya dulu membentuk dirinya.
“Ida Bagus Gedir namanya.
Sangat terkenal.
Selain galak, ia juga tampan dan berwibawa.
Ia tidak mau menerima murid, tapi mencari anak-anak untuk dilatih.
Tidak sedikit murid-muridnya kabur, cuma satu dua yang bisa bertahan.
Tubuh ini rasanya dipatah-patahkan, kedua tangannya menelusup di kedua lenganku.
Dadaku disuruh membusung.
Kalau belum sesuai dengan keinginannya.
siku kakinya menekan tengah punggungku.
” Ia menekuk sikunya dan menekan ke atas.
Selimut putih bergaris-garis hitam yang menyelimuti dirinya ikut terdorong ke atas.
“Berhari-hari latihan seperti itu.
Membosankan memang.
Setelah tubuh lemas, baru diajar menari.
Guru dulu membiarkan kita menari sesuai kata hati.
Mereka hanya memberikan pakemnya saja, memberikan patokan yang utama, kalau tari Legong Lasem begini, lebih lembut karena menceritakan putri raja dan seorang pangeran.
Berbeda dengan tari Legong Jobog, karena ceritanya perang antara raja kera Subali dan Sugriwa, karakter harus keras.
Sekarang kasihan, anak-anak menari, tapi tidak tahu cerita apa yang ditarikan.
Kalaupun tahu, mereka tidak tahu beda Subali dan Sugriwa.
Itu karena gurunya sendiri tak tahu ceritanya.
”
Puspa tercenung, bagaimana Biyang Ade tahu begitu banyak perkembangan tari Bali saat ini di masyarakat, sementara ia dikucilkan dari pergaulan.
Cuma, ia merasa tidak etis menanyakan hal tersebut.
“Kata guruku, tari Legong diturunkan bidadari lewat mimpi seorang raja.
Lalu raja mencari guru-guru tari yang paling pintar saat itu untuk mewujudkan apa yang ada dalam mimpinya, termasuk busana.
Penarinya dilatih secara keras, berhari-hari, agar mampu melakukan gerakan sulit, bergoyang meliuk-liuk seperti rumput di parit diterpa arus air.
” Biyang Ade berhenti sebentar, ia melihat tangan Puspa terulur ke wajahnya dan menyeka keringat yang menempel di dahi dan pelipisnya.
“Puspa baik sekali.
” Biyang Ade tersenyum sebentar.
“Makanya, kalau mau menari Legong, pertama mohon pada dewa-dewi agar disertai.
Lalu pusatkan semua di hati.
Dengarkan suara gamelan dan biarkan semua energi berlalu dari hati menuju ke semua organ tubuh.
Jangan pernah menahan, biarkan semua lepas.
Biarkan tubuh bergetar.
Ketika jadi gerakan jangan dinilai, lupakan semuanya.
Bergeraklah terus dan terus.
Suara gamelan bukan sekadar mengiringi, tapi menyertai, nadanya kawan seiring gerakan tubuh.
Putarlah kipas sebagai organ tubuh terakhir, biarkan energi yang bergerak dari hati mencapai ujung-ujung kipas.
Seperti yang dilakukan bidadari saat menari.
” Biyang Ade bicara sambil matanya terpejam.
Seolah-olah melihat sebuah tarian dalam kegelapan dan melaporkan pandangan matanya ke Puspa, dengan suara yang jelas dan tegas.
Usai perbincangan itu, Puspa memilih segera kembali ke rumah dinas.
Sampai hari ketiga Biyang Ade dirawat, tak seorang warga pun datang untuk menjalani pemeriksaan kesehatan atau perawatan.
Menurut Lasti, pasien yang kabur dari perawatan puskesmas beberapa hari lalu kini sudah berada di rumah sakit kabupaten, dikirim keluarganya.
Sepi, kecuali staf puskesmas yang hilir mudik.
Puspa memerintahkan mereka yang bertugas pagi mencuci semua peralatan, termasuk kain tirai dan membersihkan kaca jendela.
Menjemur kasur serta mengepel lantai dan membersihkan semua debu dari sela-sela perabotan di semua ruangan.
“Sekarang saatnya kita membersihkannya, kapan lagi,” ujar Puspa.
Petugas malam hari, yang harus bekerja sejak pukul 4.
00 sore disuruh menyetrika tirai yang sudah kering.
Merapikan buku inventaris dan mengecek semua barang yang tertulis di sana.
“Sekarang kesempatan mengerjakan segala sesuatu yang selama ini terlupakan.
”
Senja hari, Biyang Ade duduk di teras depan puskesmas.
Kondisinya sudah pulih.
Ia sudah mampu berjalan sendiri, tidak lagi dipapah Sari atau perawat kalau ingin berjalan-jalan di seputar puskesmas.
Mengenakan kebaya brokat hijau redup dan kain batik cokelat gelap.
Semuanya membalut bentuk tubuh Biyang Ade yang terawat.
Rambutnya yang sebahu diikat karet, bunga cempaka kuning terjerat di sana.
Wajahnya sudah lebih cerah dari hari sebelumnya.
Namun, Biyang Ade belum diperbolehkan pulang.
Sementara Puspa duduk di sebelahnya, mengenakan gaun panjang warna merah gelap bergambar bunga kecil-kecil hampir sewarna.
Cahaya langit memerah, matahari dipastikan baru saja menghilang di balik garis horizon.
“Mengapa Biyang Ade tidak mengajar?”
“Mengajar?”
“Ya, mengajar tari? Tari Legong mungkin.
”
Lama Biyang Ade tidak menjawab.
“Aku dilarang mengajar,” keluhnya.
“Dilarang? Siapa yang melarang?”
“Pemerintah.
”
“Pemerintah melarang Biyang Ade? Kok, bisa?”
“Aku sudah sempat mengajar anak-anak di sini menari.
Bahkan, banyak anak desa lainnya mau datang untuk belajar menari.
”
“Mungkin karena Biyang keras?” tanya Puspa menyelidik.
Kembali Biyang Ade diam, lama sekali.
Puspa gelisah, ia takut telah menyinggung perasaan Biyang Ade.
Sejurus dilihatnya mata Biyang Ade menerawang jauh.
Suara serangga di rerimbunan pohon menjadi jelas kedengarannya, suaranya seperti gergaji mesin.
Bila suara serangga hilang, berarti malam sudah benar-benar hadir.
Puspa berencana mengajak Biyang Ade ke ruang perawatan.
“Bukan.
Karena aku bergabung dengan sekeha Janger Pucuk Merah.
”
“Sekeha Janger Pucuk Merah?” Puspa semakin tidak mengerti.
“Umurmu berapa sekarang?”
“Hampir tiga puluh tahun.
”
“Berarti kau belum lahir.
Saat itu, banyak sekeha —kumpulan penari dan penabuh— dibentuk.
Penari terbaik direkrut untuk menjadi penari Janger.
Tarian yang disukai semua orang kala itu.
Kita tidak hanya menari, tapi juga bernyanyi bersama.
Sembilan remaja putra berbaris di sisi kiri dan sembilan remaja putri berbaris di sampingnya, bersamaan memasuki panggung.
Lalu duduk berhadap-hadapan.
Remaja putra bersila.
Pakaiannya berkilau karena bajunya ditempeli pecahan cermin, berwarna-warni, memakai destar dari kulit yang dicat perada keemasan dan kembang sepatu merah diselipi di daun telinga.
Mereka menyampaikan rasa ingin berkenalan lewat lagu.
Kami, remaja putri, membalas, bertumpu di atas lutut, kami menggerakkan tubuh ke kiri ke kanan, seperti alang-alang ditiup angin.
Sebuah kipas kain berwarna merah dengan motif perada hijau kami pegang, kadang ke atas tak jarang di depan dada.
Mahkota tari yang kami pakai memiliki banyak ujung, menjulang ke atas.
Setiap ujungnya, dari bawah dipenuhi bunga dari kertas warna-warni.
Kipas kami tutup, lalu diarahkan ke penari pria di hadapan.
Kami membalasnya: setengah bercanda menilai lancang rayuan tersebut.
” Biyang Ade menyanyikan satu bait lagu cinta yang biasanya dinyanyikan penari Janger wanita.
Suaranya merdu.
“Saling balas terus terjadi, penonton tertawa kalau lirik lagu balasan mengena di hati mereka.
Sampai akhirnya kami bersama saling berkenalan.
Lalu menari berpasang-pasangan di akhir tarian.
”
Merasakan emosi Biyang Ade yang tidak stabil, kadang jatuh ke dalam kebisuan dan cenderung menarik diri.
Satu saat bergairah dan sangat ekspresif saat bicara, membuat Puspa berpikir dirinya harus semakin berhati-hati.
Nyanyian serangga juga sudah menghilang.
“Mari kita bicara di kamar, Biyang.
”
“Di sini saja.
Kalau Puspa tidak keberatan.
Sudah lama aku tak bisa menyaksikan bintang dengan tenang, tanpa dimata-matai.
”
“Hem….
”
“Aku mau bergabung dengan sekeha Janger Pucuk Merah, bukan karena partai.
Aku tidak tahu politik.
Tapi, karena melihat sekeha itu yang paling serius berlatih; memiliki pencipta lagu yang pintar, memiliki pencipta busana yang mampu membuat kita menjadi indah dilihat, memiliki penabuh gamelan yang tidak bosan-bosannya berlatih setiap hari, pagi dan sore.
Setiap pentas, jantung ini terasa akan meledak.
Penonton datang dari seluruh pelosok memenuhi lapangan desa, mengelu-elukan kami saat muncul di atas panggung.
Aku selalu muncul paling depan.
Mereka meneriakkan namaku, juga nama Putu Jaya.
”
“Putu Jaya? Siapa dia?” tanya Puspa, merasa ada rasa khusus pada nada Biyang Ade saat menyebut Putu Jaya.
“Lelaki yang tampan.
Pimpinan sekeha sering mengatakan aku dan dia pasangan serasi yang bisa diteladani, karena aku wanita bangsawan dan Putu Jaya rakyat biasa, membunuh perbedaan kelas sosial.
Beli Jaya, begitu aku memanggilnya.
Walau aku selalu diingatkan pimpinan sekeha agar memanggil dia ‘Kawan Jaya’.
Aku selalu menolaknya, apa salahnya aku memanggil dia Beli Jaya, dia kan umurnya dua tahun lebih tua dan masih tetangga desa denganku.
”
“Biyang suka dengannya?”
“Ya.
”
Kembali Biyang Ade terdiam, kini dalam waktu yang lebih lama.
Puspa gelisah.
Namun, ia tak tega beranjak dan mengajak Biyang Ade ke dalam.
“Setelah ada berita tentang pembunuhan sejumlah jenderal di Jakarta, Putu Jaya hilang tak jelas rimbanya.
Katanya, dia diambil di rumahnya dan tidak pernah kembali sampai sekarang.
Dua tahun kemudian keluarganya membuat upacara ngaben, walau jenazahnya belum pernah ditemukan.
Aku tidak berani datang, dan menangis hampir sehari di rumah.
”
“Karena itu Biyang tak menikah?”
“Salah satunya.
Sebulan kemudian ada petugas pemerintah dari kabupaten.
Mereka menemui aku di balai desa saat mengajar anak-anak.
Menyuruh aku saat itu juga berhenti mengajar dan pulang.
Aku pulang dan menangis ketakutan.
Sejak saat itu, semua orang yang aku kenal tak mau bicara dengan diriku.
Keluarga juga menyalahkan aku, karena selama sehari mereka diperiksa petugas kepolisian dari kabupaten, dibentak-bentak dan dicaci-maki.
Hanya Beli Agung Raka yang masih mau berbicara.
Namun, setelah aku sempat bersilang pendapat dengan istrinya, Beli Agung selalu menghindar saat aku ajak bicara.
Ayahku meninggal tak lama kemudian, menyusul Ibu yang sudah berpulang saat aku kecil.
”
“Kenapa Biyang Ade tidak mencari pengganti Putu Jaya?”
“Bagaimana bisa.
Walau Putu Jaya cinta pertamaku, aku masih ingin punya suami dan anak.
Aku ini seperti anjing kudisan, ke mana pergi, semua mata memandang jijik.
Aku tahu mereka membicarakan diriku, tapi tak berani mengusir secara langsung.
Keluarga puri juga ikut-ikutan, aku dilarang keluar-masuk lewat pintu depan.
Bahkan, istri kakakku berani melontarkan pendapatnya di rapat keluarga, kewibawaan puri jangan sampai tercemar karena aku.
Syukur dia mendapat pahala dari karmanya.
Dia sudah bertahun-tahun tak bisa keluar rumah.
Jangankan lewat pintu depan, lewat belakang saja tak mampu.
Kedua kakinya lumpuh.
Namun, dia masih bisa juga menyebar kedengkian: penyebab kelumpuhannya ditimpakan padaku.
Katanya karena kesaktian ilmu leak-ku, dia tak bisa menggerakkan kedua kakinya.
Ilmu leak apa? Aku ini hanya bisa menari.
Sampai sekarang, demi Ida Sang Hyang Widhi —Tuhan Yang Mahaesa— belum pernah aku belajar ilmu hitam.
”
Puspa terlihat lega.
Terasa sekali ia menarik napas panjang.
I Made Iwan Darmawan
Pemenang Harapan Sayembara Mengarang Cerber 2002
|